Ragam pusaka, gegaman, dan jimat ini disebut dengan senjata sakti. Sesuai dengan namanya, baik pusaka, gegaman, maupun jimat ini dimiliki oleh setiap tokoh pewayangan sebagai senjata khas. Tak sembarangan, senjata sakti milik tokoh pewayangan tersebut dianggap keramat dan mandraguna. Mandraguna berarti memiliki kesaktian yang luar biasa, Adjarian. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan secara analisis tentang personifikasi Gareng, alasan Sumar Bagyo memilih Gareng, dan tentang karakter gerak gecul yang dibawakan Sumar Bagyo dalam Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala Gareng adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Cerita wayang yang populer saat ini banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India, seperti Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita mengambil nama-nama dari tanah India. Dalam Wayang Golek, ada ‘tokoh’ yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Cepot, Dawala, dan Gareng. Lakon. Wayang gagrag Banyumasan mempunyai ciri khas dalam penceritaan yang lebih memperjelas peran rakyat kecil yang dimanifestasikan dalam tokoh punakawan seperti cerita Bawor Dadi Ratu, Petruk Krama dan lain-lain. Selain itu pula, wayang gagrag Banyumasan lebih menonjolkan peran para muda dalam penyelesaian kasus-kasus dan permasalahan. Kata “wayang” dalam bahasa Jawa dapat dikaitkan dengan kata “bayangan” yang berarti “bayangan”, atau dengan kata “walu” dan “batu” yang
 oaY68TK.

cerita wayang gareng dalam bahasa jawa